Ekonomi dan Moralitas
October 29, 2008
Apakah ekonomi itu sesuatu yang dapat dipandang netral, dalam arti lepas dari moralitas? Pertanyaan ini erat kaitannya dengan persoalan moral dalam pembangunan ekonomi. Untuk bisa menjawabnya, kita perlu melihat di mana posisi ekonomi (begitu pula ilmu-ilmu lain) dalam konteks kehidupan manusia.
Dalam Ajaran Sosial Gereja, seluruh ilmu pengetahuan dan ilmu sosial tidak pernah menjadi sesuatu yang berdiri sendiri. Keberadaannya selalu dalam konteks kebutuhan manusia dan masyarakat. Ingat bahwa manusia, karena kodrat dan martabatnya sebagai citra Allah, selalu ditempatkan sebagai tujuan. Maka, semua ilmu, termasuk ekonomi, adalah untuk menjadi sarana yang mengabdi kepentingan umat manusia.
Pembangunan: Fasilitasi Perkembangan Manusia dan Solidaritas
October 22, 2008
Dalam Populorum Progressio tugas pembangunan untuk menghantar setiap pribadi manusia kepada perkembangan sangat ditekankan. Setiap pribadi dipanggil untuk berkembang, sekaligus dianugerahi kemampuan dan potensi untuk mematangkan perkembangan hingga mencapai kesempurnaan (PP art. 15). Perkembangan diri ini bukan sesuatu hal yang opsional atau manasuka. Panggilan untuk berkembang hingga tercapai persatuan dengan Sang Pencipta adalah tujuan tertinggi perkembangan diri manusia (PP art. 16). Dalam konteks ini, tugas utama pembangunan adalah memfasilitasi perkembangan diri setiap orang.
Manusia Satu-satunya Tujuan Pembangunan
October 21, 2008
Apakah pembangunan di negara kita sudah sejalan dengan yang telah digariskan dalam Ajaran Sosial Gereja? Rumusan pertanyaan ini sama sekali tidak bermaksud mengatakan bahwa pembangunan Indonesia harus sesuai dengan ajaran Gereja. Jika demikian, klaim agama yang jadinya berlaku dan hal ini sama sekali tidak relevan.
Yang hendak dipaparkan dalam tulisan ini adalah bahwa Ajaran Sosial Gereja, walaupun didasari oleh iman kristiani, memuat nilai-nilai yang sangat mendasar dan universal. Nilai-nilainya tidak tertuju kepada manusia dengan agama, suku, bahasa, aliran politik, dan budaya tertentu. Semuanya terarah kepada manusia hanya karena dia adalah manusia (lihat prinsip tentang martabat manusia). Maka, pertanyaan di atas perlu dibaca sebagai “apakah pembangunan di negara kita mengembangkan manusia-manusia Indonesia?”.


