Kerja adalah untuk Manusia

November 20, 2008

Karena yang bekerja adalah manusia citra Allah, yang dipanggil kepada kepenuhan dan kesempurnaan, kerja menjadi sarana yang menghantar manusia kepada pemenuhan dirinya, untuk menjadi manusia seutuhnya. Hal ini ditegaskan dalam ensiklik Laborem Exercens.

“Sebagai seorang pribadi, manusia karenanya adalah subjek dari kerja. Sebagai pribadi ia bekerja, melaksanakan berbagai tindakan yang termasuk dalam proses kerja. Terpisah dari isi objektifnya, seluruh tindakan tersebut haruslah diabdikan untuk mewujudkan kemanusiaannya, untuk memenuhi panggilan sebagai pribadi yang merupakan dasar dari martabat kemanusiaannya…. Sama sekali tidak diragukan bahwa kerja manusiawi memiliki sebuah nilai etis dari dirinya sendiri, yang secara jelas dan langsung berkaitan dengan kenyataan bahwa seseorang yang melakukan pekerjaan adalah seorang pribadi, subjek yang sadar dan bebas, yakni subjek yang mampu membuat keputusan bagi dirinya sendiri.” (LE art. 6).

Dalam kutipan di atas, Paus Yohanes Paulus II menekankan dua hal penting. Pertama, nilai manusia yang melakukan kerja sebagai subjek. Hal ini tidak dapat diganggu gugat. Pribadi manusia, yang diciptakan menurut citra Allah, adalah subjek yang menentukan makna kerja. Dengan keyakinan ini, Paus dan Ajaran Sosial Gereja secara tegas menentang pandangan atau konsep bahwa manusia hanyalah komoditas atau bagian dari proses produksi. Ia adalah pribadi dan karenanya adalah subjek.

Kedua, kerja yang dilakukan itu adalah aktualisasi dari kecenderungan dasariah manusia untuk mewujudkan diri. Hal ini berkaitan erat dengan poin pertama di atas. Kerja menjadi perpanjangan dan perwujudan dirinya, ide-idenya, emosinya, mimpi-mimpinya, harapannya, dst. Dengan kata lain, melalui kerja, orang lain dapat mengenali siapa pekerjanya. Istilah ‘perwujudan diri’ menunjukkan hubungan erat antara orang yang bekerja dengan pekerjaannya.

Dalam konteks ini, kerja pertama-tama ditujukan bagi pengembangan diri manusia. Tujuan finalnya ditemukan dalam pribadi manusia. Paus secara jelas merumuskan posisi ini dengan mengatakan bahwa “kerja adalah ‘untuk manusia’ dan bukan manusia ‘untuk kerja’.” (LE art. 6). Makna dan nilai kerja berasal dari manusia yang melaksanakannya, dan bukan sebaliknya.

Leave a Reply