Ekonomi dan Moralitas
October 29, 2008
Apakah ekonomi itu sesuatu yang dapat dipandang netral, dalam arti lepas dari moralitas? Pertanyaan ini erat kaitannya dengan persoalan moral dalam pembangunan ekonomi. Untuk bisa menjawabnya, kita perlu melihat di mana posisi ekonomi (begitu pula ilmu-ilmu lain) dalam konteks kehidupan manusia.
Dalam Ajaran Sosial Gereja, seluruh ilmu pengetahuan dan ilmu sosial tidak pernah menjadi sesuatu yang berdiri sendiri. Keberadaannya selalu dalam konteks kebutuhan manusia dan masyarakat. Ingat bahwa manusia, karena kodrat dan martabatnya sebagai citra Allah, selalu ditempatkan sebagai tujuan. Maka, semua ilmu, termasuk ekonomi, adalah untuk menjadi sarana yang mengabdi kepentingan umat manusia.
“….tujuan dari ekonomi tidak ditemukan di dalam ekonomi itu sendiri, melainkan dalam peruntukan ekonomi bagi kemanusiaan dan masyarakat. Kenyataannya ekonomi, baik pada tataran ilmu maupun praktis, tidak pernah secara langsung dimaksudkan untuk menyempurnakan manusia atau menghasilkan kehidupan bersama yang layak. Tugas ekonomi lebih bersifat parsial, yaitu produksi, distribusi dan konsumsi benda-benda material dan jasa.” (Compendium art. 331).
Kutipan di atas dengan sangat jelas menunjukkan di mana posisi ekonomi. Tugas ekonomi adalah mengembangkan satu dimensi dari hidup multi-dimensi manusia, yakni material. Karena itu, ekonomi sendiri tidak dapat menjadi tujuan. Menempatkan ekonomi sebagai tujuan sebuah pembangunan, misalnya, akan segera jatuh ke dalam bahaya mengabaikan dimensi-dimensi lain dalam hidup manusia. Pentingnya ekonomi tetap harus dilihat sebagai sarana bagi umat manusia dan masyarakat. Bersama sarana-sarana lain, ekonomi sangat diperlukan untuk mencapai tujuan hidup manusia, yaitu perkembangan dan kesempurnaan.
Justru dalam peruntukannya bagi kemajuan manusia dan masyarakat inilah ekonomi memiliki karakter moralnya :
“Agar memiliki karakter moral, ekonomi harus diarahkan kepada seluruh pribadi manusia dan semua orang. Setiap orang memiliki hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan ekonomi dan sekaligus tugas untuk menyumbang kepada kemajuan negaranya dan seluruh umat manusia, sesuai dengan kemampuan masing-masing.” (Compendium art. 333).
Keterpisahan ekonomi dari tujuannya untuk mengabdi umat manusia secara otomatis menghasilkan keterpisahan ekonomi dari moralitas. Dengan kata lain, saat pembangunan dan kegiatan ekonomi tidak ditujukan kepada peningkatan taraf hidup seluruh pribadi manusia, moral telah diabaikan. Ini adalah konsekuensi yang berat.
Dari paparan ini jelas bahwa ekonomi bukan sesuatu yang netral. Pertama-tama, keberadaan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari kepentingan seluruh umat manusia. Dari situlah ekonomi menemukan tujuannya, yakni mengabdi kepada kepentingan umat manusia untuk mengembangkan kehidupannya. Dari situ pulalah ekonomi mendapatkan karakter moralitasnya. Maka, ketika tidak lagi mengabdi kepada semua orang, ekonomi tidak hanya mengabaikan moralitas, tetapi juga kehilangan tujuannya.


