Ekonomi dan Moralitas

October 29, 2008

Apakah ekonomi itu sesuatu yang dapat dipandang netral, dalam arti lepas dari moralitas? Pertanyaan ini erat kaitannya dengan persoalan moral dalam pembangunan ekonomi. Untuk bisa menjawabnya, kita perlu melihat di mana posisi ekonomi (begitu pula ilmu-ilmu lain) dalam konteks kehidupan manusia. 

Dalam Ajaran Sosial Gereja, seluruh ilmu pengetahuan dan ilmu sosial tidak pernah menjadi sesuatu yang berdiri sendiri. Keberadaannya selalu dalam konteks kebutuhan manusia dan masyarakat. Ingat bahwa manusia, karena kodrat dan martabatnya sebagai citra Allah, selalu ditempatkan sebagai tujuan. Maka, semua ilmu, termasuk ekonomi, adalah untuk menjadi sarana yang mengabdi kepentingan umat manusia.

More…more…

Pembangunan Integral

October 23, 2008

“Pembangunan tidak dapat dibatasi semata-mata pada pertumbuhan ekonomi. Agar menjadi otentik, pembangunan haruslah lengkap, integral. Maksudnya, pembangunan haruslah memajukan kebaikan setiap pribadi manusia dan manusia secara keseluruhan. Sebagaimana seorang ahli terkenal mengatakan dengan tegas, “Kita tidak mempercayai keterpisahan ekonomi dari kemanusiaan maupun pemisahan pembangunan dari peradaban, di mana pembangunan itu berada. Apa yang kita yakini penting adalah manusia, setiap pribadi manusia dan setiap kelompok manusia, dan bahkan seluruh kemanusiaan”. (PP art. 14)

Baca terus aja….

Dalam Populorum Progressio tugas pembangunan untuk menghantar setiap pribadi manusia kepada perkembangan sangat ditekankan. Setiap pribadi dipanggil untuk berkembang, sekaligus dianugerahi kemampuan dan potensi untuk mematangkan perkembangan hingga mencapai kesempurnaan (PP art. 15). Perkembangan diri ini bukan sesuatu hal yang opsional atau manasuka. Panggilan untuk berkembang hingga tercapai persatuan dengan Sang Pencipta adalah tujuan tertinggi perkembangan diri manusia (PP art. 16). Dalam konteks ini, tugas utama pembangunan adalah memfasilitasi perkembangan diri setiap orang.

lanjut lagi…

Apakah pembangunan di negara kita sudah sejalan dengan yang telah digariskan dalam Ajaran Sosial Gereja? Rumusan pertanyaan ini sama sekali tidak bermaksud mengatakan bahwa pembangunan Indonesia harus sesuai dengan ajaran Gereja. Jika demikian, klaim agama yang jadinya berlaku dan hal ini sama sekali tidak relevan.

Yang hendak dipaparkan dalam tulisan ini adalah bahwa Ajaran Sosial Gereja, walaupun didasari oleh iman kristiani, memuat nilai-nilai yang sangat mendasar dan universal. Nilai-nilainya tidak tertuju kepada manusia dengan agama, suku, bahasa, aliran politik, dan budaya tertentu. Semuanya terarah kepada manusia hanya karena dia adalah manusia (lihat prinsip tentang martabat manusia). Maka, pertanyaan di atas perlu dibaca sebagai “apakah pembangunan di negara kita mengembangkan manusia-manusia Indonesia?”.

lanjut donk…

Karena ASG adalah bagian integral dari ajaran iman Katolik, rasanya tidak berlebihan bila komunitas-komunitas Gerejani adalah pihak yang pertama-tama dituntut mewujudkan ASG dalam hidup sehari-hari. Hal ini bisa dilihat dalam relasi antar anggotanya dan relasi dengan masyarakat serta tertuang dalam program, kebijakan, kebiasaan, dsb. Mungkin baik bila kita mencoba mencermati sejauh mana prinsip-prinsip ASG meresapi program, kebijakan, maupun kebiasaan yang telah sekian lama berjalan di paroki atau komunitas kita. Poin-poin di bawah ini adalah contoh mengenai hal-hal yang bisa kita cermati menurut lima tugas Gereja.

Uups, baca terus donk…

Pilihan kepada kaum miskin memiliki akarnya dalam Kitab Suci. Dalam kitab Mazmur dan kitab-kitab Perjanjian Lama lain ditunjukkan Allah yang mendengarkan jeritan kaum miskin dan melindungi mereka (bdk. Curran, 2007, 268-269). Dalam Perjanjian Baru, teologi kenosis menyatakan pilihan Kristus sendiri kepada mereka yang miskin. Ia bukan hanya meninggalkan keallahanNya dan menjadi manusia miskin. Ia bahkan mengidentifikasikan diriNya dengan mereka yang miskin dan malang (bdk. Mat 25:40; EA art. 34). Paus Paulus VI dalam Octogesima Adveniens mengajak kita untuk berkaca pada Injil, “Dalam mengajarkan cinta kasih, Injil mengajari kita untuk secara istimewa menghormati orang-orang miskin dan situasi khusus mereka di tengah masyarakat….” (OA art. 23). Dengan kata lain, prinsip ini mengalir dari “perintah radikal untuk mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri.” (EJA art. 87). Read the rest of this entry »

Semua manusia – walau berbeda bangsa, suku, ras, ideologi, tingkat ekonomi, pendidikan, dsb. – adalah satu keluarga. Solidaritas praktis menandakan bahwa “mencintai sesama” memiliki dimensi sosial. Dalam ensiklik Solicitudo Rei Socialis (juga dalam dua ensiklik sosialnya yang lain, Laborem Exercens  dan Centesimus Annus), Paus Yohanes Paulus II menyebut solidaritas sebagai keutamaan hakiki bagi kehidupan sosial. Beliau berkata, 

“Solidaritas bukan perasaan belas kasihan yang tidak jelas atau kesedihan yang dangkal terhadap kemalangan begitu banyak orang…. Sebaliknya, solidaritas adalah ketetapan hati yang mantap dan tekun untuk meng-komitment-kan diri pada kesejahteraan umum, yaitu pada kebaikan semua orang dan setiap individu….” (SRS art. 38). 

Read the rest of this entry »

Subsidiaritas berkaitan erat dengan cara bagaimana berbagai lapisan dan tingkatan dalam masyarakat saling berhubungan, berkomunikasi, dan membantu dalam mengupayakan hasil terbaik bagi semua orang dan pihak (bdk. Massaro, 2000, 128). Penjelasan paling gamblang tentang prinsip ini dapat kita baca dalam ensiklik Quadragesimo Anno oleh Paus Pius XI. Beliau menulis, 

Read the rest of this entry »

Gereja meyakini bahwa wujud keselamatan manusia di dunia ini adalah perkembangan dirinya menjadi semakin manusiawi secara maksimal. 

“Menurut rencana Allah, setiap manusia dipanggil untuk mengembangkan dirinya, karena setiap kehidupan adalah panggilan…. Karena dianugerahi kecerdasan dan kebebasan, manusia bertanggung jawab atas perkembangan dan keselamatan dirinya. …setiap orang dapat bertumbuh dalam kemanusiaan, mampu memajukan nilai kemanusiaannya, dapat menjadi semakin pribadi.” (PP art. 15). 

Read the rest of this entry »

Paus Yohanes Paulus II menuliskan dalam Centesimus Annus, “…pokok pembahasan dan, dalam arti tertentu, prinsip pemandu ensiklik Paus Leo dan seluruh ajaran sosial Gereja adalah pandangan tentang pribadi manusia dan nilai unik pribadi….” (CA art. 11). Lebih jauh, paus mengatakan,

“Satu-satunya tujuan Gereja adalah memelihara dan bertanggung jawab atas pribadi manusia yang telah dipercayakan Kristus kepadanya…. Kita tidak berhadapan dengan kemanusiaan yang ‘abstrak’, melainkan dengan pribadi nyata, ‘konkret’, ‘historis’. Kita berhadapan dengan setiap individu, karena setiap orang adalah bagian dari misteri Penebusan, dan melalui misteri ini Kristus menyatukan diriNya dengan setiap orang selamanya. Karena itu, Gereja tidak dapat mengabaikan kemanusiaan, dan bahwa ‘pribadi manusia ini adalah langkah utama yang harus ditapaki Gereja dalam melaksanakan misinya…langkah yang telah dijejaki oleh Kristus sendiri, satu-satunya jalan menuju misteri Inkarnasi dan Penebusan.’ Inilah satu-satunya prinsip yang menginspirasi ajaran sosial Gereja.” (CA art. 53).

Read the rest of this entry »