AJARAN SOSIAL GEREJA tentang SOLIDARITAS
February 2, 2011
…solidaritas adalah ketetapan hati yang mantap dan tekun untuk membaktikan diri pada kesejahteraan umum, yaitu pada kebaikan semua orang dan setiap individu…. (SRS art. 38)
Ketika Rm. Rafael menelpon dan meminta saya menulis artikel tentang solidaritas untuk buletin Kevin, saya sedang berada di posko Merapi bersama teman-teman relawan yang dikoordinasi oleh Sekretariat Karya Sosial CM di Surabaya bekerja sama dengan JRS (Jesuit Refugee Service) Yogya. Justru ketika sedang berjibaku dengan para relawan bersama korban Merapi, saya malah diminta merumuskan gagasan tentang solidaritas. Walau pun permintaan tersebut tidak terlalu saya pikirkan sampai tiba kembali di Surabaya, bekerja bersama dengan para korban Merapi seakan menyediakan konteks bagi permenungan tentang solidaritas ini.
Dalam tulisan kecil ini, saya mencoba membangun paparan mengenai solidaritas dengan menggunakan urutan apa, mengapa, dan bagaimana. Apa arti solidaritas adalah pertanyaan pertama mengawali pembahasan ini. Tentu saja, arti yang hendak diulas adalah arti menurut Ajaran Sosial Gereja (ASG). Ajaran Sosial Gereja sendiri merupakan upaya Gereja sejak awal berdirinya dalam mewujudkan misi penyelamatan dunia dan menandai kehadiran karya penyelamatan di tengah masyarakat luas (Chang: 2010, 32-37). Arti solidaritas yang dibahas di sini lalu sangat erat kaitannya dengan misi yang diemban Gereja.
Kerja dan Upah yang Adil
February 24, 2009
Menurut Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes,
“…kerja harus mendapat imbalannya sedemikian rupa, sehingga bagi manusia tersedialah kemungkinan untuk secara layak mengembangkan bagi dirinya maupun kaum kerabatnya kehidupan jasmani, sosial, budaya dan rohani, dengan mempertimbangkan tugas serta produktivitasnya masing-masing, pun juga situasi perusahaan dan kesejahteraan umum.” (art. 67).
Dimensi Sosial dari Kerja
December 2, 2008
Salah satu konsekuensi dari martabat manusia sebagai citra Allah adalah kemampuannya dalam berelasi dengan orang lain. Bekerja, selain sebagai perwujudan perintah Allah untuk menguasai dunia (bdk. Kej 1:29), juga menjadi sarana manusia mewujudkan kodratnya sebagai makhluk sosial.
“Kerja manusia juga memiliki dimensi sosial yang intrinsik. Dalam kenyataannya, kerja seseorang secara natural berhubungan dengan kerja orang lain. Sekarang, lebih daripada sebelumnya, kerja berarti bekerja dengan orang lain dan untuk orang lain. Bekerja adalah soal melakukan sesuatu demi orang lain. Buah-buah kerja menawarkan kesempatan untuk pertukaran, relasi, dan pertemuan. Karena itu, kerja tidak dapat dinilai secara tepat jika kodrat sosialnya tidak ikut diperhitungkan…. Jika kodrat individual dan sosial kerja diabaikan, kerja tidak akan mungkin dinilai secara adil dan dibayar menurut keadilan.” (Compendium art. 273). Baca terus achh…
Kerja adalah untuk Manusia
November 20, 2008
Karena yang bekerja adalah manusia citra Allah, yang dipanggil kepada kepenuhan dan kesempurnaan, kerja menjadi sarana yang menghantar manusia kepada pemenuhan dirinya, untuk menjadi manusia seutuhnya. Hal ini ditegaskan dalam ensiklik Laborem Exercens.
“Sebagai seorang pribadi, manusia karenanya adalah subjek dari kerja. Sebagai pribadi ia bekerja, melaksanakan berbagai tindakan yang termasuk dalam proses kerja. Terpisah dari isi objektifnya, seluruh tindakan tersebut haruslah diabdikan untuk mewujudkan kemanusiaannya, untuk memenuhi panggilan sebagai pribadi yang merupakan dasar dari martabat kemanusiaannya…. Sama sekali tidak diragukan bahwa kerja manusiawi memiliki sebuah nilai etis dari dirinya sendiri, yang secara jelas dan langsung berkaitan dengan kenyataan bahwa seseorang yang melakukan pekerjaan adalah seorang pribadi, subjek yang sadar dan bebas, yakni subjek yang mampu membuat keputusan bagi dirinya sendiri.” (LE art. 6).
Kerja Manusia
November 10, 2008
Apa makna kerja bagi manusia? Apakah kerja sekedar sarana bagi manusia untuk mencari makan? Apakah kerja hanya berguna untuk menghidupi diri dan keluarga?
“Untuk memahami kerja, kita harus melampaui pandangan sempit tentang manusia sebagai makhluk ekonomi dan menempatkan pribadi manusia dalam totalitasnya. Kerja bukanlah semata-mata kegiatan ekonomi, tetapi juga merupakan kegiatan sosial, politis, budaya dan spiritual,….” (Charles Clark, Ch. 8, 14)
Ekonomi dan Moralitas
October 29, 2008
Apakah ekonomi itu sesuatu yang dapat dipandang netral, dalam arti lepas dari moralitas? Pertanyaan ini erat kaitannya dengan persoalan moral dalam pembangunan ekonomi. Untuk bisa menjawabnya, kita perlu melihat di mana posisi ekonomi (begitu pula ilmu-ilmu lain) dalam konteks kehidupan manusia.
Dalam Ajaran Sosial Gereja, seluruh ilmu pengetahuan dan ilmu sosial tidak pernah menjadi sesuatu yang berdiri sendiri. Keberadaannya selalu dalam konteks kebutuhan manusia dan masyarakat. Ingat bahwa manusia, karena kodrat dan martabatnya sebagai citra Allah, selalu ditempatkan sebagai tujuan. Maka, semua ilmu, termasuk ekonomi, adalah untuk menjadi sarana yang mengabdi kepentingan umat manusia.
Pembangunan: Fasilitasi Perkembangan Manusia dan Solidaritas
October 22, 2008
Dalam Populorum Progressio tugas pembangunan untuk menghantar setiap pribadi manusia kepada perkembangan sangat ditekankan. Setiap pribadi dipanggil untuk berkembang, sekaligus dianugerahi kemampuan dan potensi untuk mematangkan perkembangan hingga mencapai kesempurnaan (PP art. 15). Perkembangan diri ini bukan sesuatu hal yang opsional atau manasuka. Panggilan untuk berkembang hingga tercapai persatuan dengan Sang Pencipta adalah tujuan tertinggi perkembangan diri manusia (PP art. 16). Dalam konteks ini, tugas utama pembangunan adalah memfasilitasi perkembangan diri setiap orang.
Manusia Satu-satunya Tujuan Pembangunan
October 21, 2008
Apakah pembangunan di negara kita sudah sejalan dengan yang telah digariskan dalam Ajaran Sosial Gereja? Rumusan pertanyaan ini sama sekali tidak bermaksud mengatakan bahwa pembangunan Indonesia harus sesuai dengan ajaran Gereja. Jika demikian, klaim agama yang jadinya berlaku dan hal ini sama sekali tidak relevan.
Yang hendak dipaparkan dalam tulisan ini adalah bahwa Ajaran Sosial Gereja, walaupun didasari oleh iman kristiani, memuat nilai-nilai yang sangat mendasar dan universal. Nilai-nilainya tidak tertuju kepada manusia dengan agama, suku, bahasa, aliran politik, dan budaya tertentu. Semuanya terarah kepada manusia hanya karena dia adalah manusia (lihat prinsip tentang martabat manusia). Maka, pertanyaan di atas perlu dibaca sebagai “apakah pembangunan di negara kita mengembangkan manusia-manusia Indonesia?”.
Adakah Nilai-nilai ASG dalam Komunitas Kita?
October 15, 2008
Karena ASG adalah bagian integral dari ajaran iman Katolik, rasanya tidak berlebihan bila komunitas-komunitas Gerejani adalah pihak yang pertama-tama dituntut mewujudkan ASG dalam hidup sehari-hari. Hal ini bisa dilihat dalam relasi antar anggotanya dan relasi dengan masyarakat serta tertuang dalam program, kebijakan, kebiasaan, dsb. Mungkin baik bila kita mencoba mencermati sejauh mana prinsip-prinsip ASG meresapi program, kebijakan, maupun kebiasaan yang telah sekian lama berjalan di paroki atau komunitas kita. Poin-poin di bawah ini adalah contoh mengenai hal-hal yang bisa kita cermati menurut lima tugas Gereja.


